Masih Relevan-Kah dengan Istilah "Banyak Anak, Banyak Rezeki" di Era Sekarang ?

   

Di usia yang sudah menginjak kepala enam lebih (61 thn) adalah usia yang sangat matang dan dewasa untuk ukuran usia manusia. Begitu pun jika kita analogikan usia organisasi seperti usia manusia, tentunya usia tersebut sudah tidak diragukan lagi secara kedewasaan baik sifat ataupun gagasan. Di usia yang sudah dewasa tersebut, seharusnya mindset yang dibangunnya bukan lagi berfokus pada cara bagaimana bisa melahirkan banyak anak (kuantitas), tetapi  lebih kepada bagaimana dan kepada siapa aset kita diwariskan, agar bisa meneruskan dan juga mengurus aset yang kita miliki sebagai orang tua. Aset disini bukan hanya berupa harta tetapi bisa juga berupa gagasan (ilmu). Karena perlu adanya regenerasi baik berupa gagasan maupun kepemimpinan dalam  keluarga (organisasi).  Sebagai orang tua, tentunya kita ingin memiliki anak yang cerdas, memiliki soft skill dan juga passion yang jelas agar bisa menjadi bekal untuk anak dalam menentukan masa depannya. Nah, bagaimana kita sebagai orang tua bisa mewariskan aset tersebut ?

            Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, orang tua memiliki peranan yang sangat sentral dari sang buah hati itu dilahirkan sampai dengan anak itu tumbuh dewasa bahkan sampai ia menentukan cita-citanya. Ini tentunya perlu mendapatkan pengawalan, bimbingan dan juga arahan dari kita sebagai orang tua. Karena, segala kemampuan baik yang berupa intelektual, Soft Skill maupun Passion dan juga tingkah laku anak adalah bentuk representasi berhasil atau tidaknya kita dalam memberikan pendidikan, walaupun perkembangan anak banyak juga dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Berbicara pendidikan (Sistem Kaderisasi Formal) terkadang hanya dijadikan sebagai ajang formalitas dan juga seremonial belaka, karena fakta dilapangan menunjukan bahwa banyak anak yang telah menempuh pendidikan bahkan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi secara kualitas baik inteletual, Soft Skill, Passion dan juga etika tidak bisa merepresentasikan akan pendidikan yang tinggi tersebut. Walaupun tidak semua hasil dari pada pendidikan tersebut demikian. Tentunya hal ini membuktikan akan degradasinya sistem pendidikan dan juga bukti gagalnya kita sebagai  orang tua dalam mendidik anak.

Sekarang pertanyaanya, masih relevan-kah istilah “banyak anak, banyak rezeki” dan sejauh mana kita sebagai orang tua peduli akan pendidikan dan juga masa depan anak ?

Jika kita coba bandingkan dengan anak tetangga yang secara kuantitas mereka sedikit, tetapi secara pencapaian dalam mendidik mereka dikatakan berhasil. Karena yang mereka lebih fokuskan adalah pada wilayah kualitas bukan kuantitas. Walaupun pada beberapa  kesempatan atau momentum, orang tua akan  diuntungkan memiliki anak yang banyak dengan proses bergotong royong agar segala pekerjaan yang dilakukan bisa selesai dengan cepat. Tetapi lain sisi, kita juga bingung bagaimana mengurus anak yang begitu banyaknya karena harus memberikan makan, pendidikan maupun fokus dalam memberikan bimbingan ataupun arahan.

            Harapan saya kedepannya, semoga setelah adanya regenerasi keluarga ini, kita sebagai orang tua bisa lebih peduli akan pertumbuhan, perekembangan dan juga masa depan anak, baik pemenuhan secara kualitas dan moralitas sampai pada anak paling bungsu atau akar rumput (Rayon). Dan Bisa memilih mana yang harus lebih difokuskan antara kualitas dan kuantitas anak sesuai dengan Era Sekarang, agar kita juga selaku orang tua tidak kewalahan dalam mengurus dan memenuhi kebutuhannya. Serta serius dalam mendidik (Sistem Kaderisasi Formal) anak, agar bisa menjadi anak yang memiliki kualitas baik Soft Skill, Passion dan juga Intelektual, bukan hanya menjadikan sistem pedidikan tersebut sebagai formalitas belaka.

 

 

 

Sekian Terima Kasih!

Salam  Literasi!

          Edisi Opini. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Bukan Hanya Guru, Tapi Juga Profesi Penghulu